Tuesday, October 18, 2016

Tiga Pemuda yang Dirundung Rasa Kerugian

Sebagai pemuda, Nabi kita Muhammad saw telah mengingatkan kita bahwa “masa muda adalah cabang dari gila”. Gila disini bisa dilihat dalam berbagai aspek kehidupan. Diantaranya gila dalam urusan hal mencari ilmu, bermain, bertamasya, mencari penhidupan, baik dalam urusan kebaikan (ibadah) maupun dalam urusan kejelekan (maksiyat). Tinggal bagaimana kita menyikapinya sebagai pemuda pemudi generasi penerus bangsa dan ayah–bunda kita. Tinggal diri kita sendiri yang memilih mau kita habiskan masa muda kita dalam aspek yang mana. Tentunya sebagai pemuda islam, kita harus menyadari benar bahwa Alloh SWT menciptakan kita di dunia untuk beribadah pada Alloh. Agar kita tidak menyesal dan menanggung kerugian nantinya di hadapan Alloh saat telah habisnya masa mengembara ria kita di dunia. “beramalah kamu seakan besok kamu akan mati.., dan mencari dunia lah kamu seakan kamu akan hidup seribu tahun lagi”.

Mengenai pemuda dan kerugian, ada suatu cerita yang dapat kita ambil hikmahnya tentang tiga pemuda pengembara yang di rundung rasa kerugian. Kok bisa? Mengapa? Berikut ceritanya:
Pada suatu siang yang terik, ada tiga pemuda yang sedang mengembara di suatu hutan belantara untuk mengisi kekosongan hati mereka. Hati yang terasa kosong karena tertutup kepenatan hiruk pikuk dunia fana. Dunia yang penuh dengan bayang harapan, permaianan, dan keputusasaan. Mereka berjalan dan terus berjalan. Dengan sisa-sisa keyakinan akan keimanan yang masih bersarang dihati mereka, mungkin nantinya mereka bisa menemukan ketenangan atau bahkan kebahagiaan dari Allah Tuhan semesta alam. Hingga tiba waktu malam, mereka tiba di suatu goa yang penuh dengan kegelapan. Mereka menyadari bahwa mereka butuh tempat perlindungan, apabila tiba-tiba datang serangan dari serigala yang menerkam. Namun di hati mereka terbesit kecemasan karena masuk kedalam goa yang asing dengan sembarangan.
“Ssssstttt.....” Tiba–tiba ada suara yang datang sungguh mengejutkan di tengah kegelapan malam.
“Ada sesuatu yang bisa kalian ambil dari dalam goa yang asing ini. Barang siapa yang tidak mengambil, dia akan merasa rugi. Barang siapa yang mengambil sedikit, dia akan merasa rugi. Namun barang siapa yang tak mengambil, dia juga merasa rugi ! ” , tutur suara asing itu.
Mereka terdiam sejenak, merenungkan pernyataan yang menakutkan lagi menimbulkan rasa penasaran. Akhirnya pemuda yang tinggi keimanannya, memutuskan untuk masuk dan mengambil sesuatu itu dengan tangannya. Dirabanya apakah sesuatu itu, dia merasa sesuatu itu seperti bebatuan, dia mengambilnya dengan jumlah banyak yang tak dapat dihitung.
Kemudian menyusul pemuda kedua yang keimanannya sedang. Dia ragu akan rasa kerugian, maka dia memutuskan untuk juga mengambil bebatuan itu hanya dengan jumlah sedang. Sedangkan pemuda ketiga yang keimanannya telah merendah, dia tak mengambil bebatuan itu sama sekali. Dia merasa sudah benar-benar lelah akan rasa kerugian. Akan hati nya yang telah penuh dengan kekosongan.
Hingga ketika pagi datang, ketiga pemuda itu telah berpulang dari hutan, dilihatlah apa sesuatu yang telah mereka dapatkan. Terbelalaklah mata ketiga pemuda itu atas apa yang telah mereka dapatkan. Bebatuan yang mereka ambil adalah berlian.
“astaghfirulloha’adzim, rugi aku ! Jika aku tau ini adalah berlian, maka aku tidak akan mengambil sedikit!” sesal pemuda yang mengambil sedang.
“astaghfirulloha’adzim..., rugi aku ! Jika aku tau ini adalah berlian, maka aku akan mengambil lebih banyak lagi! lebih banyak lagi!” sesal pemuda yang mengambil banyak.
Sedangkan pemuda ketiga yang tak mengambil sama sekali, dia menangis meronta–ronta penuh penyesalan seandainya dia “mau“ mengambil meski hanya sekepal tangan. Ya... Seperti gua itulah ruang dan waktu kita saat ini. Seperti gelap itulah gelapnya pandangan kita tentang keghaiban kehidupan Akhirat di hadapan Allah nanti.
Seperti suara itulah petunjuk–petunjuk Alloh yang diperingatkan dalam setiap ayat-Nya. Dan seperti batu berlian itulah amalan kita besok di hadapan Alloh. Masihkah kita mau menghabiskan masa muda kita dengan tanpa pengamalan ibadah pada Alloh? Tinggal diri kita sendirilah yang memilih mau menjadi pemuda yang mengambil banyak, atau sedikit, atau pemuda yang tak mengambil sama sekali...***
Oleh : Ruch Hanif

Share:

0 comments:

Post a Comment