Tuesday, November 12, 2013

Climate Departure (Perubahan Musim)

ldii             Dalam jurnal “Nature” bulan Oktober 2013 dibahas tentang “Climate Departure” atau perubahan iklim. Dijelaskan pada majalah tersebut, saking rusaknya iklim, suhu paling rendah di suatu tempat, akan lebih tinggi daripada suhu paling tinggi di tempat itu 150 tahun sebelumnya (di tempat yang sama). Indonesia termasuk wilayah yang mengalami perubahan iklim paling cepat. Di Manokwari climate departure akan terjadi pada tahun 2020, Jakarta tahun 2029.
Akibat langsung yang dirasakan dari perubahan iklim adalah suhu udara semakin panas, kekeringan, krisi pangan, punahnya beberapa satwa, punahynya beberapa tumbuhan, matinya terumbu karang. Kondisi iklim yang belum pernah terjadi ini akan terjadi dengan diawali di daerah tropis, terutama di negara-negara yang berpenghasilan rendah, yang bisa menimbulkan kerentanan keanekaragaman hayati global sebagai akibat keterbatasan kapasitas pemerintah untuk merespon dampak perubahan iklim tersebut. Temuan ini mempertegas urgensi mitigasi gas rumah kaca, karena terbukti berpotensi membahayakan keanekaragaman hayati.
Kota-kota yang ditandai dengan titik merah tua diproyeksikan benar-benar mengalami perubahan iklim, benar-benar segera. Ini merupakan berita buruk. Banyak dari mereka adalah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kota terbesar Lagos, Afrika, dengan populasi 21 juta jiwa, sudah rentan terhadap banjir, masih ada waktu hanya 16 tahun sebelum perubahan iklim iklim benar-benar terjadi. Juga rentan adalah kota Karibia seperti Kingston, Jamaika, yang melewati titik kritis pada tahun 2023
Tidak ada kata terlambat untuk bertindak. Dengan mengurangi emisi karbon secara signifikan dan beralih peradaban kita ke teknologi yang berkelanjutan, kita dapat membuat perbedaan nyata. Bahkan hanya memerlukan beberapa waktu bisa menjadi sangat penting, karena memungkinkan kita untuk terus mengembangkan hal-hal seperti panel surya yang lebih baik dan lebih murah, kendaraan listrik yang dapat berjalan pada energi bersih, meningkatkan isolasi bangunan, dll. Intinya dengan mengurangi polusi udara, emisi gas buang, efek rumah kaca.
Gerakan go Green yang dilakukan oleh LDII di Makasar Sulawesi Selatan dan Gerakan cinta Bahari yang pernah dilakukan di Kendari Sulawesi Tenggara merupakan gerakan relevan dan strategis, yang dapat ditiru oleh daerah lain sebagai gerakan menjaga alam dan kelestarian lingkungan yang diharapkan dapat mencegah, paling tidak mengurangi perubhan iklim.

Share:

2 comments:

  1. Insya' Alloh. Makanya sekarang kayaknya dimana-mana panas, kita berusaha semampu kita dan tetap berdoa, mudah2an Alloh memberikan pertolongan, kemudahan dan barokah kepadfa kita semua.

    ReplyDelete
  2. Insya’ Alloh. Makanya sekarang kayaknya dimana-mana panas, kita berusaha semampu kita dan tetap berdoa, mudah2an Alloh memberikan pertolongan, kemudahan dan barokah kepadfa kita semua.

    ReplyDelete