Thursday, October 24, 2013

Sarasehan Forum Komunikasi Umat Beragama Kelurahan Klitren, Gondokusuman

101_0416 Pada hari Minggu, 13 Oktober 2013 bertempat di Balai RW 09 Kepuh Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta diselenggarakan sarasehan Forum Komunikasi Umat Beragama yang diikuti oleh 30 orang tokoh agama di Keluraha Klitren, Lurah Klitren (Ajid Andarjito, SIP), Sekretaris Camat Gondokusuman (Cahyo Wijayanto, S.Sos), Babin Kamtibmas Polsek Gondokusuman (Kompol Rumpoko) dan KUA Gondokusuman. Acara dimulai pada pukul 09.30 WIB berakhir pada pukul 12.30 WIB. Acara dibuka oleh Ketua LPMK Kelurahan Klitren Th. Suwarto Hadi. Dalam sambutannya Ketua LPMK mengatakan suasana keagamaan di Kelurahan Klitren selama ini kondusif, dapat hidup berdampingan secara damai, namun upaya perlu terus dilakukan dengan sarasehan dan komunikasi seperti ini agar suasana damai tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan.

Ketua Panitia, Awaludin melaporkan bahwa di Kelurahan Klitren hidup berdampingan beberapa agama serta berdiri beberapa tempat ibadah, dilaporkan pula bahwa acara ini dapat digelar atas dukungan biaya dari LPMK Kelurahan Klitren. Hambatan yang dirasakan selama ini untuk menyelenggarakan pertemuan FKUB adalah terbatasnya dana/anggaran. Acara ini dihadiri oleh tokoh dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha. Target acara ini adalah terjalinnya komunikasi antar tokoh agama di Kelurahan Klitren.

LDII mendapat undangan dan turut berpartisipasi dalam acara ini. Hadir mewakili LDII adalah H. Sudarsono, SKM, MA, Paryanto, A.Md dan Sabariatin Widi Nugroho. LDII menyarankan untuk dibentuk kepengurusan Forum Komunikasi Umat Beragama baik di Tingkat Kecamatan maupun di Tingkat Kelurahan mengingat di Kelurahan Klitren belum ada kepengurusan FKUB, sedangkan kepengurusan FKUB baru ada di tingkat Kota Yogyakarta. Pengurus FKUB tersebut selanjutnya akan menyusun program kerja, biaya yang diperlukan, jadual sarasehan dsb. LDII siap mendukung kelancaran dan kelangsungan FKUB baik di Tingkat Kelurahan Klitren, Tingkat Kecamatan Godokusuman maupun Kota Yogyakarta.

101_0414

Narasumber/pemateri acara ini adalah KH. Abdul Muhaimin dari unsur Islam dan Pdt Em. Bambang Subagyo dari Unsur Kristen. Dalam paparannya KH. Abdul Muhaimin menyampaikan pengalaman pribadinya sebagai seorang muslim taat dalam bekerjasama secara harmonis dengan non muslim antara lain dari Cina, AS, Singapura, Malaysia. Disampaikan pengalaman manisnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren menerima tamu-tamunya dari kalangan non muslim. Ditekankan bahwa masalah agama, masalah ibadah adalah masalah pribadi, tetapi manusia sebagai makhluk social tidak bisa lepas dari hidup bermasyarakat dan bernegara, umat bergama dan beriman dalam pergaulan sehari-hari harus bisa “srawung” dengan tetangga, menghormati norma yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. KH. Abdul Muhaimin prihatin atas merosotnya nilai nasionalisme Bangsa Indonesia saat ini sehingga sangat mudah diprovokasi dan diadu domba.

Pdt. Em. Bambang Subagyo dalam paparannya menyampaikan bahwa potensi konflik dapat berasal dari pemimpin agama maupun umat. Adapun potensi konflik yang menghambat peningkatan kerukunan umat beriman disebabkan antara lain oleh :

  1. Merosotnya solidaritas social yang membuat makin lebarnya jenjang perbedaan antara mereka yang kaya dengan mereka yang miskin disebabkan oleh :

    1. Hilangnya permainan social anak memacu sikap individualitas. Terbukti anak-anak bermain dengan teman sebayanya pada waktu kecil akan melatih dan memupuk nilai-nilai dan sikap social anak tersebut.

    2. Persaingan hidup yang makin keras dan cenderung kapitalistik yang memandang pihak lain sebagai saingan yang harus disingkirkan.

    3. Tayangan media masa yang membangkitkan mimpi-mimpi dan memacu sikap konsumeristik, menjauhkan dari sikap sederhana dan peduli terhadap sesama.

    4. Makin menyoloknya pameran kekayaan, menimbulkan kecemburuan social yang dapat memicu konflik.



  2. Kemajuan teknologi komunikasi cenderung mengurangi minat untuk melakukan perjumpaan personal (silaturrahim). Manusia sekarang lebih senang memainkan alat komunikasinya (hp, gadget) daripada ngobrol dan silaturrahim, hal ini akan melunturkan kepekaan social.

  3. Tayangan media masa yang cenderung banyak  menyajikan konflik dan tindak kekerasan daipada hal-hal yang membangun kehalusan budi pekerti.

  4. Tawaran hiburan (intertein) yang tak terawasi mengalihkan minat seseorang untuk lebih suka memuaskan diri dengan hiburan-hiburan sesaat daripada menghadiri pertemuan-pertemuan pembinaan iman, pengajian-pengajian. Keadaan ini juga merupakan potensi konflik dalam keluarga maupun masyarakat.

  5. Penghayatan kehidupan agama/ibadah cenderung hanya sekedar pemenuhan upacara ritual, tetapi tidak diikuti dengan upaya membangun/mempertebal spiritualnya. Akibatnya banyak orang yang berkepribadian ganda (double personality)


Selanjtunya Pdt. Em. Bambang Subagyo mgusulkan solusi meredam konflik sebagai berikut :

  1. Meredam potensi konflik baik dari pemimpin maupun umat

  2. Mewujudkan pengakuan akan kedaulatan Allah dalam menyelamatkan manusia, dengan menyerahkan sepenuhnya pada kebijakan Ilahi tanpa harus mengklaim bahwa orang yang tidak sekeyakinan tidak selamat.

  3. Mengakui bahwa Kitab Suci berisi kesaksian tentang Firman dan Karya Allah itu diwartakan dalam konteksnya masing-masing untuk kemudian dapat dipahami terus menerus sebagai seruan actual dalam konteks masa kini.

  4. Mengakui bahwa pada hakikatnya kehidupan manusia itu terletak pada relasinya dengan Tuhan. Pengakuan ini menjadi dasar untuk membangun sikap menghargai bahwa setiap manusia mempunyai kesadaran spiritual sesuai dengan apa yang diyakininya.

  5. Mengakui bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia utuk menentukan sikap imannya secara bertanggung jawab.

  6. Menerima pluralitas agama sebagai kenyataan yang menunjukkan kemahakuasaan Allah sekaligus membuktikan keterbatasan manusia dalam menangkap dan mewartakan wahyu Allah. Dengan demikian dapat menghargai keberadaan agama-agama secara egaliter dengan tetap mengakui dan menghormati kekhasan masing-masing agama.

  7. Berusaha untuk lebih memahami kesamaan penghayatan agamawi (religiositas) dalam membangun moralitas hidup beragama (kesalehan yang otentik) daipada memperdebatkan keberbedaan normative.

  8. Bersedia untuk melakukan pertemuan (silaturrahim)/komunikasi dan dialog antar umat Bergama/beriman untuk mewujudkan persaudaraan sejati.

  9. Menyatukan tekad untuk memuliakan Allah, serta memperjuangkan sungguh-sungguh tegaknya keadilan dan kebenaran demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai sejahtera dalam naungan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa.


LDII Kota Yogyakarta sebagai organisasi social keagamaan menyadari dengan sepenuh hati bahwa dalam hidup bermasyarakat, sikap toleransi, kerjasama, hidup berdampingan secara damai harus dipelihara dan  dikembangkan, mengingat 4 pilar Negara Indonesia yaitu UUD 1945, Pancasia, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika merpakan harga mati, yang harus dihormati dan diamankan oleh semua komponen masyarakat Indonesia.

H. Sudarsono, SKM, MA

Share:

1 comment:

  1. Hal tersebut merupakan sesuatu yang harus ditindak lanjuti dengan perbuatan, tidak saja terbatas pada teori dan pengertian, untuk menciptakan suasana aman dan damai agar ibadah dan kehidupan lancar.

    ReplyDelete