Wednesday, January 23, 2013

Indonesia yang Bhineeka Tunggal Ika Sebagai Rahmat

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika berarti meskipun bebeda tetapi tetap satu. Bangsa Indonesia bersykur mempunyai nenek moyang yang mampu berfikir cerdas jauh ke depan. Nenek moyang menyadari bahwa keberagaman Indonesia ini potensial menjadi konflik di kemudian hari, sehingga nenek moyang berfikir bagaimana agar keberagaman ini tidak menjadi konflik dengan membuat semboyan yang diwariskan kepada generasi berikutnya yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.


Negara Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau dengan sangat beraneka ragam suku, bahasa, budaya, agama, ras, kepercayaan, adat sangat potensial terjadi konflik apalagi didukung dengan keadaan sumber daya alam yang sangat berbeda daerah satu dengan lainnya. Apalagi pada jaman sekarang, dengan peningkatan ekonomi, tingkat pendidikan, status social, teknologi komunikasi dan informasi tanpa didasari dengan sikap mental untuk bersatu, konflik dan perpecahan serta diintegrasi social sangat mudah terjadi.

Sikap mental bersatu perlu terus ditumbuh kembangkan di kalangan Bangsa Indonesia agar eksistensi wilayah Indonesia saat ini dapat dipertahankan hingga akhir jaman. Sikap mental yang diperlukan Bangsa Indonesia adalah sikap toleran terhadap suku, agama, ras, budaya lain sesame warga Negara Indonesia. Sikap toleran bukan berarti mengikutinya, tetapi tetap mempunyai sikap/jati diri sesuai dengan agama, kepercayaan, budaya yang dianut, dengan mengedepankan komunikasi untuk membangun kesepakatan bukan mengedepankan sikap emosi dan ingin menang sendiri.

Terkait dengan kehidupan beragama di Indonesia, yang mengakui dan menjunjung tinggi agama di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, sebagai wujud  Bhinneka Tunggal Ika agama tidak dipermasalahkan karena perbedaannya, tetapi yang berbeda dicari persamaan dan titik temunya agar tetap hidup berdampingan dan rukun. Konflik yang kadang-kadang muncul sesungguhnya bukan mempermasalahkan aqidah agama, tetapi dipicu oleh masalah penyerta misalnya kecemburuan social, tingkah laku seorang oknum dan lain-lain yang sesungguhnya bukan masalah aqidah agama.

Isu yang kadang-kadang muncul yang sebenarnya mencederai Bhinneka Tunggal Ika adalah menjustifikasi sesat terhadap agama kelompok lain. Berikut ini disampaikan criteria sesat menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang ditetapkan pada tanggal 25 Syawal 1428 / 8 November 2007 di Jakarta pada Bab VI tercantum criteria sesat yaitu apabila suatu paham atau aliran keagamaan memenuhi salah satu dari criteria sebagai berikut :

  1. Mengingkari salah satu dari Rukun Iman yang 6 (enam) yaitu beriman kepada Alloh SWT, beriman kepada malaikat, beriman kepada Rasul, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qadla dan qodar, dan mengingkari Rukun Islam yang 5 yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada Bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

  2. Meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Al Hadits).

  3. Meyakini adanya wahyu yang turun setelah Al Qur’an

  4. Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an

  5. Melakukan penafsiran Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

  6. Mengingkari kedudukan Al Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam

  7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul

  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

  9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syaria’ah, seperti : haji tidak ke Baitulloh, Sholat fardhu tidak 5 waktu

  10. Mengkafirkan sesama muslim  tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya kaena bukan kelompoknya.


Berdasarkan criteria tersebut di atas, seharusnya berhati-hati menjustifikasi kelompok lain sebagai kelmpok sesat.
Share:

2 comments:

  1. Jangankan dalam satu negara, dalam satu keluargapun perbedaan sering ditemukan. Perbedaan pendapat, perbedaan selera, perbedaan keinginan dsb. Perbedaan-perbedaan itu tidak dipermasalahkan dan tidak dibesar-besarkan, tetapi harus dikelola dengan baik agar semua pihak tidak mempermasalahkan perbedaan orang lain.

    ReplyDelete
  2. kunjungi blog ane ya gan http://informasi-hargaindonesia.blogspot.com/

    ReplyDelete