Thursday, September 20, 2012

Ketidakadilan Global (Global Injustice)

Perkembangan system financial  modern di dunia ini memungkinkan bahkan memaksa para pelaku ekonomi bersikap spekulatif dan karena itu dengan sangat mudah berubah tergelincir menjadi kategori penipuan, seperti kasus/skandal Bernard L. Madoff yang merugikan para nasabahnya  sampai berjumlah total sekitar 64.8 milyar USD, yang akhirnya dijatuhi hukuman 150 tahun penjara dan denda 170 miyar USD.


Pada tahun 2008 yang telah kita saksikan kerugian akibat krisis subprime mortage diprediksi melampaui 1.5 trilyun USD, akibat gejolak pasar keuangan yang mengakibatkan kebangkrutan Lehman Brother Holding Inc.  Ketika Lehman mengumumkan pailit dengan kerugian terbesar sepanjang sejarah, saham American International Group Inc. di New York turun 61%. Ini merupakan bagian terbesar dari penurunan saham di AS.


Dengan system keuangan global ini hampir semua perusahaan besar bergerak dalam bisnis yang bersifat spekulatif, maka dengan mudah bisa berubah menjadi kebohongan public dengan cara “memasak buku”. Di New York Stock Exchange (NYSE) nilai kapitalisasinya (virtual value) sebesar 17.2 trilyun USD setiap hari. Bandingkan dengan nilai GDP Amerika Serikat 30 trilyun USD setiap tahun dan 12 negara Uni Eropa yang jumlahnya hanya 9.5 trilyun USD setiap tahun. Kecepatan dan kekuatan fooling around fund (dana pencari mangsa)  pada pasar uang ini adalah 11.5 trilyun USD setiap hari pada 80 negara. Sedangkan untuk Indonesia meskipun relatif masih kecil yaitu sekitar 1.2 trilyun rupiah setiap hari di JSX (Jakarta Stock Exchange), tetapi  sudah cukup besar disbanding dengan anggaran setahun pada beberapa kementerian yang ada atau gabungan beberapa kabupaten di Jawa, yang tidak mencapai 1 trilyun setiap tahun. Pada keadaan seperti  ini ketika perusahaan rontok, pemerintah harus turun tangan menyelamatkannya.


Inilah yang dinamakan ketidakadilan global yaitu ketika perusahaan keuangan (perbankan, lembaga keuangan bukan bank dll) mendapat keuntungan, tidak ada yang diberikan kepada rakyat umum kecuali pajak-pajak yang juga dibebankan kepada wajib pajak pada umumnya. Tetapi ketika sebuah bank atau perusahaan keuangan gagal beroperasi, tiba-tiba pemerintah yang harus menalangi kerugiannya, yang dinamakan “bailout”. Pemerintah di manapun ketika menalangi bailout akan menggunakan anggaran APBN, yang hakikatnya adalah uang seluruh rakyat.

Jadi tidak berlebihan jika dikatakan ketika mereka untung hasilnya “diprivatisasi” (dimiliki privat), tetapi jika rugi bebannya dibagikan kepada pihak lain (disosialisasi). Hal yang sama sebenarnya terjadi pada kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Krisis disebabkan oleh ulah para pelaku usaha global dan nasional yang tidak berhati-hati dalam melakukan kebijakan keuangan.

KRISIS GLOBAL

Upaya pemulihan ekonomi global beberapa bulan terakhir tidak saja terhadang pengerutan ekonomi di Eropa, tetapi juga melemahnya perekonomian di beberapa negara seperti AS, Jepang, China dan India. Pada kuartal kedua tahun 2012 perekonomian Eropa khususnya 17 negara zona Euro, mengalami pengerutan pertumbuhan ekonomi -0,2 % dari kuartal sebelumya (+0,4%) dan diprediksi berkontraksi hingga -0,6% pada tahun 2012. Belum adanya titik terang pemulihan krisis Eropa dan langkah-langkah strategis dari otoritas Uni Eropa berdampak pada kian tergerusnya kepercayaan investor dan lesunya aktivitas ekonomi kawasan itu.

Hal tersebut di atas akan berdampak pada APBN Indonesia tahun 2013. APBN tahun 2013 akan lebih bersifat pengamanan, sulit untuk bersifat sebagai factor pendorong perkembangan ekonomi. APBN tahun 2013 harus mengamankan kemungkinan gejolak harga pangan dan energy (BBM), dan sedapat mungkin mengatasi kemiskinan absolute.

Dalam kondisi seperti ini LDII terus mengembangkan ekonomi komunitas (Usaha Bersama, BMT, Koperasi Syariah, dll) dalam rangka upaya pengamanan ekonomi umat menghadapi gejolak ekonomi yang tidak menentu, sebagai akibat system keuangan global yang bersifat spekulatif.

Kepada seluruh warga LDII pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya disarankan tetap produktif megnurangi hal-hal yang bersifat konsumtif. Kerja keras, hidup sederhana, menunda pembelian barang-barang konsumtif yang belum merupakan kebutuhan. Hidup hemat, giat menabung, jaga kesehatan, usahakan tetap sehat agar terhindar dari sakit dan biaya perawatan rumah sakit, dan tidak lupa sebagai usaha batin adalah selalu berdoa dan tawakal kepada Alloh SWT. agar tetap memberikan sehat, aman selamat lancar dan barokah, rizqi yang banyak, halal dan barokah.
Share:

2 comments:

  1. Produktif, tidak konsumtif, kerja keras, hidup sederhana, hemat, tetap tawakal kepada Alloh SWT, perlu digaris bawahi...

    ReplyDelete
  2. Bukan dirampok lagi Pak.. tapi sudah diaknhian ditanah sendiri banyak perusahaan asing yang memeras pekerja Indonesia dengan perlindungan dari aturan Outsourcing . keuntungan diraih berlipat-lipat kekayaan alam, Sumber daya manusia dan budaya selamatkan Indonesiaku

    ReplyDelete