Saturday, August 11, 2012

Ketidakadilan Global (Global Injustice)

Keadilan GlobalAda pertanyaan yang mendasar : teknologi pangan, energy, transportasi dan teknologi informasi komunikasi berkembang pesat, tetapi mengapa tidak terjadi penurunan kemiskinan secara global? Bahkan krisis keuangan di berbagai negara terus berulang, sekitar 1 milyar dari 7 milyar penduduk dunia masih mengalami kelaparan dan kekurangan gizi, meningkatnya krisis air bersih dan lingkungan dan kemarau berkepanjangan di berbagai belahan dunia.

Sejak awal tahun 90-an dunia telah masuk pada era yang dinamakan era casino capitalism, yaitu era dimana antara 90-95 % uang di dunia digunakan untuk melakukan kegiatan spekulasi, baik melalui pasar uang, bursa saham dan lainnya yang bersifat spekulasi. Jadi hanya 5-10 % uang yang digunakan untuk transaksi riil atau transaksi nyata, yaitu untuk membeli barang atau jasa . GDP dunia adalah 60 trilyun USD. Tetapi uang yang digunakan berspekulasi sekitar 1-2 trilyun USD setiap hari, artinya sekitar 300 trilyun USD per tahun (bandingkan dengan GDP dunia yang hanya 60 trilyun USD per tahun).

Akibat dari keadaan ini adalah uang/kekayaan global telah menumpuk hanya pada sekitar 300-an orang di dunia ini. Bahkan Bloomberg merelease bahwa selama sepekan terakhir, harta orang-orang terkaya di dunia bertambah sekitar 27,9 miliar USD (Rp. 279 trilyun). Hal ini juga menyebabkan kesenjangan kaya dan miskin secara global makin melebar jauh.

Inilah terutama menjadi penyebab terjadinya proses pemiskinan global dan menumpuknya utang global dan menghasilkan ketidak adilan global. Ketidak adilan global ini akan menimbulkan krisis keuangan global selalu terus berulang, mulai dari tahun 1997/1998, kemudian 2008, krisis Yunani/Eropa pada tahun 2011 dan seperti telah dilaporkan diperkirakan krisis keuangan terjadi  pada tahun 2013. Tentu keadaan ini juga akan berpengaruh terhadap keuangan di Indonesia, karena Indonesia juga mempunyai utang luar negeri. Keadaan ini menjadikan hampir semua lini kehidupan di Indonesia menjadi ajang transaksi termasuk pemilu/pemilukada. Pemalakan terhadap pedagang kaki lima, bahkan masuk kamar kecil di tempat-tempat umum sekarang harus bayar, padahal di luar negeri tidak ada masuk kamar kecil di tempat umum harus bayar, konflik horizontal mudah tersulut, terutama perselisihan kepemilikan lahan, ini merupakan sedikit contoh yang mengindikasikan bahwa dalam skala tidak terasa, Indonesia sebenarnya juga sudah masuk dalam krisis ekonomi financial yang berkepanjangan, yang merupakan sebagian dari dampak berlagnsungnya casino capitalism.

Oleh karena itu masyarakat Indonesia pada umumnya dan warga LDII pada khususnya, disarankan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Terus berdoa dan tawakal kepada Allah SWT. Mohon agar diberikan keselamatan, kelancaran dan kebarokahan rizqi .

  2. Mempraktikkan sifat jujur, amanah, hidup hemat, kerja keras, menjaga kerukunan, kekompakan dan bisa bekerjasam yang baik. Dengan mempraktikkan sifat tersebut di dunia akan terhindar dari masalah dan di akhirat Allah SWT akan memberikan derajat pahala yang tinggi kepada orang-orang yang mempunyai sifat tersebut.

  3. Tetap menjaga persatuan dengan mengedepankan komunikasi. Terus dibangun komunikasi dengan pihak manapun, apabila ada masalah diselesaikan dengan komunikasi dan musyawarah yang saling  menguntungkan, jangan mengedepankan kekuatan dan emosi.

  4. Berusaha tetap menabung, sebagian dari penghasilan disisihkan untuk ditabung, bisa dalam bentuk tanah, sawah, tambak, rumah, dll.

  5. Membeli barang konsumtif sesuai kebutuhan, prioritaskan barang-barang yang benar-benar dibutuhkan untuk dibeli. Tunda dulu barang-barang yang sebenarnya masih bisa “dihindari” untuk dibeli, apalagi yang bernilai mahal.

  6. Terus bekerja giat, karena persaingan semakin ketat, secara dunia bisa meraih penghasilan uang, secara akhirat bisa meraih pahala yang sebanyak-banyaknya. Tidak ada waktu luang terbuang sia-sia.

Share:

1 comment:

  1. Kita menyadari persaingan makin ketat...

    ReplyDelete