Monday, April 09, 2012

Disintegrasi Sosial

Konflik sosial di Indonesia akhir-akhir ini sangat mengkuatirkan akan mengancam keutuhan integrasi bangsa. Ada tiga factor yang dianggap sebagai akar masalahnya, yaitu kesenjangan kesejahteraan, kemiskinan dan ketegangan politik. Perbedaan yang sangat jauh kaya dan miskin menjadi pemicu terjadinya ketegangan, apalagi tidak ada upaya yang terstruktur dan terprogram dari pemerintah. Ketegangan ini akan lebih parah manakala pemerintah lebih berpihak kepada si “kaya”. Jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup signifikan. Hal ini disebabkan sempitnya lapangan kerja, kurangnya kesempatan dan rendahnya kemampuan berusaha. Manusia akan melakukan apa saja apabila sudah menyangkut hal “perut”. Ketegangan politik yang dimotori oleh Partai Politik turut menyumbang terhadap terjadinya konflik sosial yang ada di masyarakat. Elit partai yang tidak berpihak kepada rakyat dan hanya memikirkan kepentingan pribadinya masih banyak dijumpai. Ini semua menjadi bahan bakar sakit hati di kalangan masyarakat miskin yang akan menimbulkan konflik sosial.

Banyak pengamat menyatakan akar masalah yang utama/dominan adalah dari problem structural, yaitu kebijakan, akses dan control terhadap sumber daya alam yang melahirkan kesenjangan dan kemiskinan. Pada kenyataannya masih terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang kurang tepat, yang belum berpihak terhadap rakyat, misalnya kebijakan impor beras, sapi, gula, buah-buahan, garam, adalah kebijakan yang dinilai “aneh”. Seharusnya dilakukan pembinaan terhadap petani dan peternak bagaimana agar bisa swasembada, bukan dengan kebijakan “impor”. Kita yakin Indonesia bisa swasembada, dan sudah terbukti Indonesia pernah swasembada beras. Sangat diperlukan peran pemerintah dalam membina petani dan peternak agar swasembada. Sangat diperlukan peran pemerintah dalam regulasi dan control terhadap akses sumber daya alam, agar sumber daya alam tidak dimonopoli yang dapat menimbulkan ketegagan.

Beberapa tahun belakangan ini pemicu konflik yang paling sering adalah sengketa lahan atau konflik agraria. Menurut Deputi Riset dan Kampanye Konsorsium Pembaruan Agraria, konflik agrarian pada tahun 2011 melibatkan 69.975 keluarga (KK) dengan luas area konflik 472.048 Ha. Dari 163 konflik di tahun 2010 saja, telah memakan korban 186 jiwa.

Data-data yang menunjukkan besarnya jumlah konflik sosial yang terjadi, dianggap oleh beberapa ahli sebagai indikasi terjadinya disintegrasi sosial.  Artinya meskipun secara administrative politik formal Indonesia masih NKRI, tetapi secara sosiologis, Indonesia telah mengalami disintegrasi sosial, karena banyaknya konflik sosial di masyarakat. Pemerintah dianggap kurang mampu mengayomi dan memberikan rasa aman terhadap masyarakatnya. Ini merupakan peringatan bagi bangsa dan rakyat Indonesia, apalagi setiap hari TV menyuguhkan aksi demo dan kekerasan baik di dalam maupun luar negeri.

Melihat kondisi tersebut di atas maka sebagai warga Negara Indonesia yang baik disarankan agar melakukan hal sebagai berikut:

  • Tidak boleh melakukan provokasi untuk menanamkan kebencian terhadap pemerintah, bagaimanapun pemerintah yang efektif sangat diperlukan. Yang perlu dilakukan adalah komunikasi dengan pemerintah sesuai dengan tingkatannya, memberikan saran dan masukan terhadap hala-hal yang terjadi di dalam masyarakat sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan.

  • Hindari penguasaan lahan yang berpotensi menimbulkan masalah

  • Empat pilar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati. Terus ditanamkan rasa setia terhadap empat pilar bangsa tersebut kepada seluruh warga Negara Indonesia dimanapun berada.

  • Memupuk persatuan dan kesatuan bangsa dimulai dengan menumbuhkan kerukunan antar warga mulai dari lingkungan terdekat perlu terus dilakukan. Berbudi baik dan berbudi luhur kepada tetangga, teman kerja, teman kuliah, teman sekolah, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, perlu terus dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik-konflik sosial.


Waspada terhadap isu, upaya adu domba dan sejenisnya dari pihak manapun yang mengarah terjadinya konflik dengan siapapun.
Share:

0 comments:

Post a Comment